Surat I Petrus ditulis sebagai nasihat bagi jemaat-jemaat yang ada di Asia Kecil yang sedang mengalami tantangan dari para penguasa di Roma. Dalam menghadapi situasi seperti itu, Petrus memahami kepemimpinan (penggembalaan) yang baik bagi umat. Sebab bagaimana mereka dapat bertahan dalam iman, bila tidak ada kepemimpinan yang baik. Bagaimana mereka kuat bila tidak ada pemimpin dan pelayanan yang berkualitas.

Tugas penggembalaan (pastoral) bukan saja tugas para penatua. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah, namun merupakan tugas yang mulia. Salah satu hal penting yang ditekankan, bagaimana tugas ini dilaksanakan yakni : melayani bukan untuk mencari keuntungan, tetapi sebagai pengabdian. Kita hanya alat dalam tangan Tuhan, karena itu semua yang kita lakukan harus dipersembahkan untuk Tuhan (bnd. Roma 11:36).

Ini tentu berhubungan dengan motivasi kita untuk melayani. Jangan merampas kemuliaan yang seharusnya kita persembahkan untuk Tuhan. Pelayanan Kristiani harus tampil sebagai wujud pengabdian. Itulah yang harus dilakukan dimanapun, dalam keadaan apapun dan kepada siapapun. Jika tidak, kita tidak akan pernah menjadi pelayan yang mengabdi. Kita cenderung mencari popularitas diri dan “memilih-milih pelayanan”. Bacaan kita mengatakan bahwa tugas ini harus dijalankan dengan sukarela sesuai kehendak Tuhan, bukan karena paksaan. Tugas pengabdian tidak akan berjalan, kalau dilaksanakan karena terpaksa. Tuhan memanggil kita, sebagai sebuah “ajakan” untuk melayani. Namun pekerjaan-Nya tidak tergantung pada kita kalau kita menolak panggilan-Nya.

Tugas pengabdian kita hendaknya dijalankan dengan menjadikan hidup kita sebagai teladan dan bukan memerintah menjadi otoriter”). Apapun tantangan yang kita hadapi, tidak perlu takut, Dia gembala Agung ada bersama semua orang yang melayani dengan pengabdian. Kepada-Nya kita kelak akan mempertanggungjawabkan semua itu.