“Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang diberikan Tuhan…?” (ay.3)

(Yosua 18 : 1-7)

Prosesi perjalanan umat Israel telah sampai ke Silo. Di situ Kemah Pertemuan didirikan sebagai pusat ibadah. Di dalam kemah itu terdapat Tabut Perjanjian. Halitu berarti Tuhan hadir dan berjuang bersama umat untuk menempati tanah yang telah diundikan bagi masing-masing suku. Tuhan menjamin kehadiran-Nya. Sebagai-mana Allah hadir selama perjalanan di paciang gurun begitulah Tuhan tidak pernah berhenti berkarya. Tetapi Tuhan mengharapkan agar umat memasuki Kanaan, harus meneruskan perjuangan yang sudah dimulai oleh Tuhan. Tetapi kenyataan di padang gurun ter-ulang lagi. Umat terus menginginkan agar Tuhan yang aktif berjuang dan mereka pasif saja.

Dengan kata lain, umat berpangku tangan dan menyuruh Tuhan yang bekerja. Lalu Yosua menegur umat sebagai “orang yang bermalas-malas”. Sifat ini muncul karena umat kehilangan motivasi untuk berjuang karena tantangan yang berat. Mereka merasa puas dengan apa yang telah dicapainya. Akibatnya masih ada 7 suku yang belum memasuki tanah yang diundikan. Pada hal 5 suku lain telah siap membantu. Tiga orang dari setiap suku ditugaskan untuk meninjau daerah yang belum diduduki.

Gereja sebagai persekutuan orang percaya, sering kehilangan motivasi di dalam perjuangan. Hal ini disebabkan tantangan yang semakin berat dari dunia modern. Tetapi juga sering gereja kurang percaya diri terhadap apa yang dilakukannya. Dalam situasi seperti ini Firman ini menegur agar gereja percaya diri dengan mengandalkan Kristus dengan Firman-Nya.