“Laiu Yosua membuang undi bagi mereka di Silo, di hadapan Tuhan” (ay.10)

(Yosua 18 : 8 – 10)

Yosua memang termasuk pemimpin yang sabar. Ia telah membuang undi untuk sembilan setengah suku yang belum mendapat tanah, tetapi hanya dua setengah suku yang memenuhi perintahnya (Manasye, Efraim dan Yehuda). Tujuh suku disebut bermalas-malasan. Penyebabnya adalah kepala-kepala suku tersebut masa bodoh atau keras tengkuk. Yosua harus sabar menghadapi keadaan umat yang lebih banyak bersantai ketimbang bekerja keras. Sistem pembagian tugas yang telah ditetapkan Musa sebenarnya masih berlaku. Sehingga koordinasi pelaksanaan tugas melalui kepala suku secara hierarkis seharusnya lancar, tetapi kenyataannya tidak. Bacaan kita tidak mengemukakan apa sesungguhnya hambatan utama. Padahal Allah ada di tengah-tengah mereka. Selanjutnya Yosua dengan sabar mengulangi lagi rencananya untuk meninjau keadaan negeri yang belum diduduki. Setiap suku dari 7 suku itu mengutus tiga orang yang akan diperlengkapi untuk melakukan tugas tersebut.

Setelah Yosua membuang undi, maka 21 orang itu disebarkan ke kota-kota yang sudah diundi. Mereka kembali dengan catatan yang menjadi dasar untuk penetapan wilayah untuk suku itu. Maka selesai-lah pembagian itu. Terakhir Yosua mendapat tempat di Timnat-Serah di pegunungan Efraim. Keamanan negeri itu terjaga seperti yang dijanjikan Tuhan. Lalu Yosua mengundurkan dengan permintaan agar umat tetap setia kepada Tuhan. Menjadi pemimpin harus menjadi teladan. Ada saat untuk tampil dan ada saat untuk mundur. Ada saat ia dibutuhkan dan ada saat ia tidak dibutuhkan lagi.