“Singgalah, tuanku, silakan masuk. Jangan takut…” (ay.18)

(Hakim-Hakim 4 : 11 – 24)

Pertempuran tidak dapat dielakkan antara Raja Kanaan dan umat Israel. Peristiwa ini terjadi di sekitar danau Galilea. Hazor, ibu kota Kanaan di sebelah utara danau Galilea dan pasukan Barak terkonsentrasi di gunung Tabor, di sebelah selatannya. Sementara itu pasukan panglima Kanaan, Sisera mengerahkan kereta besinya menuju Tabor dan di kalangan Israel, Debora mendampingi Barak panglima Israel.”Bersiaplah sebab inilah harinya Tuhan menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu”, demikian tegas Debora kepada Barak. Cara Tuhan mengacaukan kereta besi Sisera digambarkan didalam pasal 5:20-23, yaitu dengan badai hujan yang menyerang kereta-kereta itu sehingga kuda-kudanya lari tunggang-langgang. Seluruh tentara Sisera terbunuh oleh tangan Barak dan pasukan Israel. Sisera sendiri melarikan diri. Ia tiba di kemah Yael, istri Heber, orang Keni itu yang berhubungan baik dengan Yabin raja Kanaan. Suku Keni bebas berhubungan dengan suku-suku lain karena pekerjaan mereka sebagai tukang patri. lpar istri Musa adalah orang Keni (Hakim-hakim 1:16). Sesuai nubuat Debora maka Tuhan menyerahkan Sisera ke tangan seorang perempuan yaitu Yael. Perempuan inilah yang membunuh Sisera di kemahnya. Sebelumnya Yael menyelimuti Sisera dengan “kelambu penangkal lalat”. Lalu, Yael memberinya minum dadih yang membawa efek sangat mengantuk. Sisera masih mengatur siasat untuk menyelamatkan diri. Tetapi ia segera tertidur dan terbuka kesempatan Yael menghabisi hidupnya.

Kekerasan memang dihadapi dengan kelembutan seorang perempuan. Lalu muncul “Tangan Tuhan” yang memakai kelembutan Yael untuk mengakhiri hidup seorang “penumpah darah”.